Kamis, 17 November 2011

Value Engineering

Bulan Oktober kemarin saya berkesempatan untuk mengikuti pelatihan Value Engineering di Swissbell Hotel, Kemang, Jakarta. Teknik ini dikembangkan selama Masa Perang Dunia II dalam rangka pengefektifan penggunaan material yang dilakukan oleh Lawrence D. Miles, Purchase Executive di General Electric Company, USA.

Value Enggineering atau Value Analysis adalah pendekatan sistematis bertujuan untuk mendapatkan keinginan fungsi dari sebuah produk, proses, sistem atau servis dengan harga yang minimal tanpa mempengaruhi kualitas, kemampuan, kinerja dan kemanan.

Penyebab rendahnya nilai suatu barang dan biaya yang tidak diperlukan dalam produksi karena:
  1. Kurangnya informasi atas apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam suatu pekerjaan;
  2. Keputusan berdasarkan keyakinan yang salah;
  3. Berfikir berdasarkan kebiasaan yang telah terbentuk;
  4. Kebiasaan yang negatif;
  5. Kekuarangan waktu;
  6. Perubahan teknologi;
  7. Spesifikasi yang telah lama.
Proses Value Engineering (VE) terdiri dari beberapa tahapan yang bertujuan untuk mengidentifikasi biaya yang tidak diperlukan dan meminimalkan atau bahkan menghilangkannya. Perencanaan yang baik seharusnya melalui tahapan sebagai berikut:
  1. Orientation Phase, dalam fase ini terdiri dari pemilihan proyek yang berpotensi untuk dilakukan proses VE, pemilihan anggota tim VE yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu terkait, serta pemilihan ketua tim yang sekaligus sebagai pengambil keputusan dalam tim;
  2. Information Phase, dalam fase ini bermaksud untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya terkait barang/proses yang akan di VE-kan, yang dapat dikategorikan dalam data fisik, data metode, data performa, data terbatas, data harga, dan data statistik. Misalnya, sebuah pabrik baja memproduksi baja WF untuk konstruksi bangunan dengan harga 1juta per batang untuk penampang 15x30cm. Pabrik tersebut memiliki jangkauan pelayanan distribusi seluruh pulau jawa, juga melayani pemesanan baja modifikasi seusuai permintaan pemesan. dari data statistik yang disusun menunjukkan tingkat kepuasan konsumen atas pruduk pabrik tersebut sebesar 72%.
    Batang Besi WF
  3. Functional Phase, dalam fase ini mendefinisikan sebuah produk dapat bekerja (nilai kegunaan) atau dijual (nilai tambahan). Suatu pruduk/barang dapat dikategorikan memiliki fungsi utama (basic function) dan fungsi sekunder (secondary function) dimana fungsi utama hanya terdiri dari satu macam. Sedangkan fungsi tambahan merupakan turunan dalam proses pembuatan, sistematika cara kerja dan strategi penjualan. Sesuai hukum Pareto menyatakan bahwa sebuah grup selalu memiliki persentase terkecil (20%) yang bernilai atau memiliki dampak terbesar (80%). Misalnya, struktur atap berfungsi penopang beban diatasnya (atap) dan menyalurkan beban ke struktur dibawahnya (kolom/balok), dan memiliki fungsi sekunder yaitu fungsi estetik, tempat menaruh instalasi elektrikal & plumbing, insulasi panas dan hujan, dll. Setelah melakukan analisis fungsi utama dan sekunder, dilanjutkan dengan analisis Function-Cost-Worth, dan Function-Analysis-System-Techniques (FAST) Diagram yang dikembangkan setelah melakukan diskusi dengan tim untuk mengetahui bagaimana-kenapa  suatu pruduk bekerja.
  4. Creativity Phase, fase ini dibahas dalam tim untuk mengasilkan metode alternatif dalam suatu proses agar proses lebih efektif. Dalam fase ini biasanya terdapat 3 alternatif tindakan dalam mewujudkan efisiensi proses, yaitu hapuskan, gabungkan, atau susun ulang. Misalnya, dalam suatu struktur atap baja WF dengan bentangan 15 mtr kurang lebih menggunakan penampang balok WF 30 x 15. Setelah melalui proses diskusi tim maka didapatkan beberapa alternatif lain misalnya dengan menggunakan struktur trussbeam, balok WF combi, atau bahkan dengan menyesuaikan bentuk beam sesuai gaya yg bekerja di balok tersebut. Perlu menjadi perhatian bahwa dalam proses ini bertujuan untuk memperoleh alternatif sebanyak-banyaknya tanpa melakukan evaluasi sehingga ide dapat seluas mungkin.
  5. Evaluation Phase, fase ini mulai dilakukan ketika fase kretifitas (creativity phase) telah selesai. Evaluasi dilakukan terhadap ide yang dihasilkan pada waktu fase kreatifitas dengan menggunakan Paired Comparison Matrix dan Decision Matrix bersama dengan anggota tim.
  6. Recomendation Phase, fase ini meliputi penyempurnaan dan pengembangan dari alternatif yang dipilih dalam fase evaluasi. Dalam fase ini anggota tim harus mengetes secara detail dan menaruh perhatian penuh dalam mencari fakta meyekinkan tentang implementasi rencana yang dihasilkan. Misalnya, setelah melalui perhitungan oleh para engineering dengan menggunakan Baja WF yag dipotong sesuai gaya yang bekerja akan dapat mengefisien material baja sebesar 40% tanpa mengurangi performa dari fungsi baja tersebut.
  7. Implementation Phase, tahap ini adalah pelaksanaan dari konsep yang dihasilkan dalam fase sebelumnya. Kunci sukses dalam fase ini adalah keberadaan SOP (Standar Operating Procedure) membagi tugas dan tanggung jawab agar tindakan dapat diambil dengan tepat diwaktu yang tepat.
  8. Audit Phase, sasaran dari fase ini adalah untuk mengecek kebenaran dari sistem baru yang ditawarkan oleh tim VE. Fase audit meliputi Audit Teknis dan Audit  Biaya.
Metode ini sebenarnya sudah lama dipraktekkan di beberapa perusahaan di USA, namun kita baru mengenalnya dalam dekade akhir ini. Sebenarnya masih banyak metode lain yang bertujuan untuk pengefisiensian suatu proses produksi. Namun yang ditawarkan oleh metode VE pada intinya adalah analisa fungsi dasar suatu barang/produk sehingga dapat berkonsentrasi untuk meningkatkan performa fungsi tersebut.

Implementasinya dalam dunia arsitektur, bahwa seorang arsitek memang harus menghasilkan karya yang 'indah', namun arsitek kadangkala kita terjebak pada unsur estetik yang berlebihan, bahkan kadang sebuah ruang atau elemen bangunan tidak memiliki fungsi yang jelas dan hanya menjadi ornamen. Hal tersebut akan berimplikasi pada harga (cost) bangunan yang melebihi biaya seharusnya (worth). Hal tersebut sesuai pernyataan Louis Henri Sullivan pada tahun 1896, Form Follow Function

 -----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Archiline Studio

www.archiline-studio.com
Komplek RTM No.25 Tugu Cimanggis (Kelapa Dua) Depok 16451
email. aji.noor@gmail.com
ph. 0856-2002-678/0811-1162-678


      Tidak ada komentar:

      Poskan Komentar